Aswaja NU :
Home » » Sang Kyai Pancasilais

Sang Kyai Pancasilais

Written By Unknown on Senin, 13 Januari 2014 | 00.49


 Pada 9 Desember 2013 memenuhi undangan ceramah di gereja Bethany Tayu, Pati - Jawa Tengah.  Kyai sudrun yang banyak hapal kitab injil ini mengupas kesamaan, titik temu antara Islam-Nasharoh. Secara historis dan  etimologis Gus Nuril membeber dengan gamblang, seperti misalnya istilah salam dalam Islam dan kristen; salom ilaihim, assalamuaikum dan hongswastiasthu, sancay.
Bahkan Gus Nuril juga meneriakkan salam " Halleluyah " dengan lantang, tapi dia juga memberikan argumen historisnya atas ucapannya tersebut yang menyegarkan dan otentik.  Ini Fenomena dakwah baru yang luar biasa karena selama ini banyak yang mengharamkan, melarang dan bahkan mengkafirkan orang muslim memberi ucapan selamat atau hadir di acara agama orang non muslim, kyai dilarang hadir dan ceramah di acara orang-orang non Islam.
Ini akan menjadi “ inspirasi dan terobosan" kultural yang fenomenal di Indonesia. Gus Nuril sendiri mengisahkan, ia juga sempat merasa bimbang, sebelum akhirnya ia melakukan itikab dan komunikasi spriritual dengan Tuhan lewat wasilah para Wali - kemudian ia ziarah ke Sunan Ampel dan Gus Dur.
Setelah itu Ia baru mendapat keyakinan untuk berani dan perlu menghadiri undangan ke gereja untuk memberikan pencerahan tentang Islam dan Pluralisme di Indonesia. Dia juga berkeyakinan bahwa Pancasila dan NKRI adalah formulasi paling tepat untuk menjaga dan memperkokoh berdirinya Negara yang diberi nama Indonesia ini. Dan itu adalah sebuah maha karya dari para alim ulama dan umaro’ di awal-awal pembentukan NKRI seperti yang diungkap dalam khotbahnya di gereja Bethany Pati, Jateng beberapa waktu lalu. Oleh karena itu tidak ada salahnya kalau kyai satu ini dijuluki Kyai Pancasilais Muslim Indonesia Sejati.
“ Tahun 1935 sebelum kemerdekaan, konsepsi NU adalah mendirikan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) ….. bukan negara islam… maka ketika muncul BPUPKI dan Perumusan Pancasila Kyai Wachid Hasyim di utus supaya Indonesia ini tidak menjadi Negara Teokrasi dan tidak menjadi Negara Sekuler…. Maka di dalam sila pertamanya adalah Ketuhanan yang Maha Esa….. “  jelas Gus Nuril meyakinkan.
Kejumudan dalam beragama, hipokrisi, dan politikisasi agama disinyalir sebagai penyebab utama terhambatnya keharmonisan pluralisme di Indonesia seperti yang disitir oleh Gus Nuril:
" Sebenarnya sampeyan itu belum kenal agama, dan belum kenal Tuhan. Banyak orang yang seolah-olah melayani agama, melayani tuhan, sesungguhnya dia itu melayani nafsunya sendiri..."  demikian pendapat Gus Nuril di gereja Bethany Tayu, Pati.
Gus Nuril Arifin telah melakukan suatu "pendekonstruksian nilai", melakukan sesuatu yang dalam pandangan umum tidak lazim atau bahkan tidak boleh dilakukan - seperti yang selama ini "disepakati" oleh sebagian besar mainstream islam di Indonesia. Ia menerima undangan dari Pendeta dan Gembala Sidang Gereja Bethany Tayu, Pati - Jawa Tengah, bukan sekedar hadir acara natalan tapi juga sebagai salah satu panelis atau pembicara utama.
Kekacauan pluralisme (keberagamaan antar umat beragama) di Indonesia ini terjadi sebagai akibat pemahaman agama yang masih setengah-setengah atau bahkan belum paham tentang dinnullah (esensi agama, tuhan) sehingga orang mudah dipermainkan atau dipolitisir oleh pihak-pihak tertentu yang ingin mengacau keharmonisan umat beragama di Indonesia.
“ Banyak bangsa ini yang tidak paham tentang agama, akibatnya kita tercerai berai nggak karu-karuan… Orang lupa bahwa sebelum ada NU itu diawali dari pemikiran tiga pilar yaitu tawazhun, tawazhut, dan tasamuh… ihtidal tuma’ninah…..” kata Gus Nuril.
Peran pemerintah pun tak luput dari sorotan Gus Nuril, pemerintah mesti memberikan ruang terbuka dan tidak otoriter kepada umat beragama untuk berinteraksi satu sama lain. Dan lumayan sarkastik Gus Nuril menyentilnya;
“ …...Pemerintah keblinger kalau ada kyai ikut natalan di gereja terus dilarang… goblok namanya…! “ ujarnya ketus.
Untuk sebagian umat muslim dan para ulama-umaro’ ortodok mendengar statemen Gus Nuril di atas tentu bagai tersambar petir di siang bolong – namun kalau kita telaah secara kompfrehensif isi ceramah Gus Nuril sebenarnya hanya ingin mengatakan bahwa peran kaum minoritas terhadap keberlangsungan negeri yang bernama Indonesia ini tidak boleh diabaikan, menurutnya – karena dengan keberadaan mereka justeru bisa menjadi ‘pagar betis’ keamanan Indonesia sehingga tidak di  aneksasi oleh Amerika sebagaimana yang terjadi di Irak dan Libya.
Mungkin yang lebih ekstrim lagi adalah bagaimana Gus Nuril menjelaskan tentang  10 perintah Allah( The Ten Comandmend ) yang diterima Nabi Musa di puncak gunung Tursina, perintahnya itu sebenarnya juga diajarkan pada agama-agama yang lain. Dalam kaitannya dengan Islam, Gus Nuril justeru menyebutkan bahwa perintah pertama The Ten Comandmend itu manifest Tauhid dalam Islam, yakni Laa Illaha illallah – karena bunyinya adalah Jangan ada Allah lain selain Aku. Gus Nuril menyitir ayatnya:
“ Satu ayat pertamanya adalah jangan ada Allah lain dihadapanku, itu bahasa Indonesianya, kalau bahasa arabnya ya “Laa Illaha Ilallah” ( secara tak terduga di ikuti jamaáh Bethany )…… Lhoo…. Sampeyan itu Kristen kok bilang Laa Illaha Ilallah……? ( Jamaah tertawa berderai )”  itulah salah satu ludrukkan kultural ala Gus Nuril yang otentik dan membumi.
Gus Nuril memberikan ceramah yang konstruktif dan kondusif  dalam hubungannya antar iman umat beragama, yang di dalamnya merupakan satu kesatuan dan kekuatan untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara ke depan. Gus Nuril telah menunjukan sikap, sifat, pandangan seorang muslim Indonesia sejati, Muslim Pancasilais, Muslim NKRI, dan Muslim Kultural,  yang terpanggil untuk berinteraksi dan bersilaturahmi secara langsung kepada mereka yang berbeda iman.
“ … Kasih itu bukan hanya hukum tertinggi, tapi aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, dalam kehidupan kita baik kehidupan bertetangga, bersuku, dan berbangsa – maka Tuhan akan hadir di tempat kita “ papar Gus Nuril.
Patut diapresiasi pula adalah keterbukaan Gereja Bethany dan kesediaan Sang Kyai untuk berceramah di gereja pada perayaan Natal. Mereka telah melakukan terobosan yang sangat fenomenal dan urgent dalam rangka membangun keharmonisan hubungan antar umat beragama, antar iman secara bermartabat.
Sementara itu  Cendekiawan muslim , Dr. Qurais Shihabpun menjelaskan dalam kaitannya uluk salam kepada kaum yang berbeda agama: “ Tetapi, tidak juga salah mereka yang membolehkannya, selama pengucapannya itu bersikap arif bijaksana dan tetap terpelihara akidahnya, lebih-lebih jika hal tersebut merupakan tuntunan keharmonisan hubungan antar umat beragama, merupakan sesuatu yang menarik….” (kompasiana, 22/12). 
Dalam kaitannya dengan pluralisme Gus Nuril secara ludrukan menjelaskan bahwa dia dengan Yesus itu hampir sama; sama-sama gondrong, cuman bedanya adalah kalau Yesus itu surbannya pakai duri sedangkan dia tidak, karena dia merasa bukan orang gemblengan seperti Yesus. Kemudian Gus Nuril menyanyikan sebuah tembang religi seperti yang termuat dalam kitab Mazmur:
“ Jiwaku terbuka untukmu Tuhan,…. Selidiki nyatakan segala perkara,…. Singkapkan semua yang terselubung,… supaya kulayani hadapanmu Tuhan….." ( Dengan di iringi piano gereja jadi terasa hidup dan khidmat,…. di ikuti koor halus jamaah gereja ).
It’s Amazing Grace….. Barrookallohul' Azhiimm.... Allohummaa Ammiinnn….!
Massya Allahh…. Sebuah eufimisme Islami yang sangat indah nan agung menaungi jamaáh gereja Bethani Tayu,  Pati. Sepertinya para malaikat hadir dan memberkahi indahnya kebersamaan umat Tuhan di muka bumi; damai, sentausa selamanya.
Kemudian Gus Nuril juga mengurai perihal kekacauan pluralisme di Indonesia yang terjadi sebagai akibat sering terjadinya budaya hujat menghujat, saling mendiskreditkan, dan merasa paling benar sendiri di antara umat beragama. Kita harus menengok ke belakang bagaimana dulu sejarah wali songo dalam menjalankan misi dakwahnya. Meraka harus berbaur dengan orang-orang yang sangat beragam keyakinannya bahkan ada yang belum punya keyakinan (agama) sama sekali. Melalui pendekatan kultural sedikit demi sedikit akhirnya mereka berhasil menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada manusia.
“ Dulu para wali Songo itu ketika mau melakukan dakwah pertamanya  mengumpulkan orang-orang hindu, majuzi, budha, sorolaster, syabi’ín, katholik dan orang nasrani…..  Lhoo, kenapa sampeyan itu cari kelompok yang tidak setuju…. Jangankan anda, saya saja yang bersyahadat….silahkan buka internet….Gus Nuril kafir,…Gus Dur kafir,…itu kafir,…ini kafir……kalau sampeyan dikafir-kafirkan orang tenang sajalah…rak uwiss taa.…” ujarnya.
Lebih lanjut Gus Nuril menjelaskan bahwa Kafir itu artinya menutup, terselubung. Sedangkan beribadah itu bukanlah harus bareng-bareng, berteriak-teriak tapi lebih pada bagaimana intensitas seseorang secara individu dalam berkomunikasi langsung dengan Sang Khaliq (Tuhan) melalui jiwanya, dengan raganya, dan dengan nafasnya.
Gus Nuril dan Gereja Bethany telah melakukan terobosan luar biasa dalam membangun keharmonisan hubungan antar iman, antar umat beragama secara khusus di Tayu, Pati - Jateng, dan itu bisa menjadi inspirasi baru dan bergema ke segenap penjuru Nusantara untuk di implementasikan.
Semoga apa yang terjadi di Pati, Jawa Tengah itu, bisa menjadi case in point  di tempat lain, dalam membangun toleransi dan interaksi antar umat beragama berdasarkan persamaan, bukan berdasarkan jurang perbedaan. Dari kota kecil Tayu, Pati, Jateng itu mereka telah melakukan sebuah terobosan besar untuk membongkar kebekuan dan kejumudan hubungan serta toleransi antar umat beragama di Indonesia. Sebuah peristiwa yang bisa menjadi referensi atau pun cerminan para umat beragama yang masih berpandangan ekstrim picik dalam kehidupan toleransi beragama. Memandang agama secara rigid, hitam-putih sehingga justeru menimbulkan “kepongahan individu” -- lalu merasa sebagai mahkluk yang paling benar, paling suci, dan suka meremehkan serta mengkafirkan pihak lain. Sebagaimana di utarakan Gus Nuril bahwa semua agama itu mempunyai nabi-nabinya sendiri, dan semua pasti mengajak untuk berbuat kebaikan dan kebajikan, amar-maruf nahi mungkar di muka bumi Tuhan ini.

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Wargo Deso Kepingin Iso

Popular Posts

 
Support : mwcnu gayam
Majelis Wakil Cabang Nahdlatul 'Ulama Gayam Jl. Raya Banyuurip Desa Gayam Kecamatan Gayam Kabupaten Bojonegoro - 62154